Proses Perubahan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap organisasi. Organisasi akan selalu mengalami dinamika perubahan, baik yang disebabkan dari dalam maupun dari luar organisasi. Perubahan tidak harus terjadi begitu saja, namun perubahan harus mampu dikelola dengan baik. Manajemen perubahan diperlukan dalam rangka membantu proses perubahan menjadi lebih terarah. Charles Darwin pernah mengatakan bahwa “Mereka yang berumur panjang bukanlah spesies yang terkuat namun mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan” Pernyataan tersebut bukan hanya berlaku pada makhluk hidup saja, namun berlaku juga bagi organisasi.

Manajemen perubahan merupakan proses yang terus menerus untuk melayani setiap kebutuhan akan perubahan. Perubahan selalu memunculkan kekhawatiran serta harapan. Penguasaan strategi untuk mengelola perubahan merupakan hal penting. Demikian juga bagaimana proses perubahan itu terjadi, kapan seharusnya perubahan dilakukan. Seluruh tindakan serta proses organisasilah yang menentukan berhasil ataupun gagalnya proses tersebut.

Terdapat tiga faktor yang mendorong terjadinya perubahan organisasi (Soerjogoeritno; 2004). Pertama, sejumlah ketidakpuasan dengan kondisi sekarang. Semakin besar rasa ketidakpuasan dengan kondisi sekarang, akan semakin mendorong untuk melakukan perubahan. Kedua, ketersediaan alternatif yang diinginkan. Semakin banyak alternatif yang tersedia yang lebih layak untuk memperbarui kondisi sekarang menuju kondisi yang lebih baik maka semakin menguntungkan bila melakukan perubahan. Ketiga, adanya suatu perencanaan untuk mencapai alternatif yang diinginkan. Bila ada perencanaan yang baik dan sistematis berarti semakin terbuka peluang melakukan perubahan.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah pengorbanan yang dikeluarkan akan sebanding dengan hasil yang didapat jika perubahan dilakukan?. Jika hasil melebihi pengorbanan maka proses perubahan akan lebih mudah dilakukan. Namun sebaliknya, jika keuntungan tidak sebanding pengorbanan, maka perubahan akan menemui hambatan diantaranya adalah penolakan.

Penolakan terhadap perubahan merupakan suatu yang sering terjadi dan bersifat alamiah. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa mereka lebih suka mempertahankan status quo yang ada dan menolak untuk melakukan perubahan. Menurut Kerr (Hani dan Reksohadiprodjo; 1997) penyebab timbulnya penolakan tersebut meliputi: kepentingan pribadi, adanya salah pengertian, norma, keseimbangan kekuatan serta adanya berbagai perbedaan seperti nilai, tujuan, dan lain sebagainya.

Adanya rasa kehilangan rasa nyaman, kekuasaan, uang, keamanan serta identitas dan keuntungan-keuntungan lain yang ditimbulkan adanya perubahan akan menimbulkan penolakan. Selain itu, salah pengertian sebagai akibat salah informasi menjadikan orang enggan untuk menerima perubahan. Hal ini dikarenakan mungkin mereka merasa tidak diikutkan dalam diskusi dan penyusunan rencana perubahan. Mereka tidak mengetahui tujuan, proses, dan akibat potensial yang ditimbulkannya. Lebih jauh lagi, aturan-aturan serta norma-norma yang sudah tertanam kuat juga akan menghambat adanya suatu perubahan. Mereka mungkin mereka takut atau menyangsikan bahwa perubahan akan meninjadikan keadaan menjadi lebih baik. Kurang adanya rasa kesadaran dan kepercayaan dari pihak-pihak yang menolak adanya perubahan.

Sedangkan Quirke (1996), dalam Soerjogoeritno (2004), mengidentifikasi beberapa penyebab adanya penolakan terhadap perubahan, diantaranya adalah:

1)      Kurangnya atau tidak adanya pemahaman akan kebutuhan untuk berubah,

2)      Kurangnya atau tidak kondusifnya konteks atau lingkungan perubahan,

3)       Adanya pemahaman bahwa perubahan yang akan dilakukan tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai dasar organisasi,

4)      Kesalahan dalam memahami perubahan dan implikasi-implikasinya,

5)      Adanya pemahaman bahwa perubahan yang akan dilakukan bukanlah merupakan pilihat terbaik bagi organisasi,

6)      Tidak adanya kepercayaan atau keyakinan terhadap orang-orang yang mengajukan rencana perubahan,

7)      Tidak adanya keyakinan terhadap keseriusan orang-orang yang memimpin perubahan, dan

8)      Adanya konsepsi bahwa perubahan tidak dilakukan secara adil.

 

Lebih spesifiknya lagi dari uraian diatas yaitu sebuah manajemen perubahan yang efektif harus mampu memahami penolakan yang sering kali mengikuti perubahan. Ada beberapa hal yang menjadi alasan terjadinya penolakan terhadap perubahan organisasi, yaitu:

  1. Ketidakpastian
  2.  Kepentingan pribadi yang terancam
  3. Perbedaan persepsi
  4. Rasa kehilangan

Dan untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan yang terjadi dalam organisasi, setidaknya ada beberapa teknik yang bisa diterapkan, yaitu:

  1. Partisipasi
  2. Pendidikan dan komunikasi
  3. Fasilitasi
  4. Analisis bidang kekuatan

 

Sebagai contoh dari penolakan dalam sebuah perubahan yang masih baru – baru ini adalah adanya penolakan atas rencana pemberlakuan kurikulum 2013.  Penolakan tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan Mendikbud yang menghapus mata pelajaran (mapel) Bahasa Daerah dalam Kurikulum Baru 2013. Dan para hari Senin 31 Desember 2012 Ratusan warga Sunda, Jawa Barat (Jabar) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Bandung. Mereka adalah para seniman dan sastrawan Sunda, guru, dosen dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bandung. Beberapa komunitas di Bandung yang ikut dalam “Aksi Budaya Nolak Kurikulum 2013” ini, antara lain berasal dari Jurusan Bahasa dan Sastra Sunda UPI, Sastra Sunda Unpad, Fakultas Adab UIN SGD, Caraka Sundanologi, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda, Yayasan Pusat Kebudayaan Sunda, dan lain-lain. Tidak hanya daerah Jawa Barat saja, seperti Bali dan DIY pun melakukan aksi serupa, untuk menyuarakan penolakan kurikulum baru yang dianggap warga telah mengabaikan keberadaan bahasa daerah dan muatan lokal dalam kurikulum 2013. Mereka beranggapan bahwa rancangan kurikulum 2013 kian mempersempit Bahasa Sunda untuk dapat tumbuh dan berkembang sebagai benteng utama bagi etnis Sunda tetap bertahan. Pemerintah pusat diminta untuk bersikap konsisten dalam menyusun kurikulum berdasarkan amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas yang mewajibkan negara untuk memelihara dan melestarikan bahasa daerah.

Sejak awal uji publik dimulai pada 29 Nopember lalu, banyak pihak yang memberikan kritik atas rancangan kurikulum yang akan berlaku pada Juli tahun depan. Selain masalah penghapusan mapel TIK, masalah keberadaan mapel Bahasa Daerah yang dianggap tidak jelas juga mendapat banyak tanggapan kritis.

Dari contoh diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam mengambil suatu keputusan dalam perubahan tidaklah mudah, harus benar – benar teliti melihat kesegala aspek, mulai dari tujuan yang jelas, hasil yang akan dicapai, kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi dalam perubahan tersebut sehingga memperkecil kemungkinan penolakan yang akan terjadi.

SUMBER :

http://ssantoso.blogspot.com/2011/02/perubahan-organisasi-dalam-perspektif.html

http://leozulkarnain.blogspot.com/2012/01/perubahan-atau-perkembangan-organisasi.html

http://www.srie.org/2012/12/bahasa-daerah-dihapus-warga-sunda-gelar.html

http://www.srie.org/2013/01/ada-demo-tolak-mapel-dahasa-daerah.html